Di tengah kekayaan tradisi lisan masyarakat Lampung, terdapat berbagai kisah mengenai asal-usul tempat, gunung, laut, dan perubahan bentang alam yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu cerita yang menarik adalah kisah tentang Sang Hyang Apuy, yang dalam tradisi tutur dipandang sebagai Dewa Api atau penguasa api, serta hubungannya dengan Gunung Batubakha, yang secara harfiah dikaitkan dengan makna batu yang menyala.
Kisah tersebut tidak sekadar bercerita tentang gunung dan letusan. Di dalamnya terkandung gambaran mengenai cara masyarakat masa lampau memahami perubahan besar pada alam di sekitarnya. Gunung, api, air laut, pulau, dan daratan dipandang sebagai bagian dari suatu rangkaian peristiwa kosmologis yang memiliki kekuatan adikodrati.
Dalam cerita yang berkembang di Lampung, Sang Hyang Apuy dipercaya sebagai penjaga Gunung Batubakha. Gunung tersebut digambarkan sebagai sebuah gunung besar yang memiliki kekuatan api di dalam tubuhnya. Api bukan semata-mata unsur penghancur, melainkan kekuatan alam yang memiliki kehidupan dan kehendaknya sendiri. Karena itu, keberadaan gunung api dalam pandangan masyarakat tradisional dapat ditempatkan sebagai sesuatu yang sakral, sekaligus menjadi bagian penting dari keseimbangan alam.
Pada suatu masa yang sangat jauh dalam ingatan leluhur, Gunung Batubakha kemudian mengalami suatu peristiwa dahsyat. Gunung tersebut meletus dengan kekuatan yang luar biasa, sehingga mengubah wajah daratan di kawasan yang sekarang dikenal sebagai wilayah antara Pulau Sumatra dan Pulau Jawa.
Letusan besar itu dalam cerita rakyat kemudian dikaitkan dengan terjadinya sebuah peristiwa pemisahan daratan Jawa dan Sumatra, yang sebelumnya digambarkan masih menjadi satu kesatuan daratan, akhirnya terpisah ketika air laut masuk dan menggenangi bagian daratan yang runtuh atau terbelah. Dari peristiwa tersebut kemudian terbentuklah sebuah perairan yang dikenal sekarang sebagai Selat Sunda.
Dengan demikian, dalam kerangka cerita rakyat tersebut, Selat Sunda bukan hanya dipahami sebagai sebuah bentang laut, melainkan sebagai jejak dari suatu peristiwa alam yang sangat besar. Air laut yang memasuki kawasan tersebut menjadi batas baru antara dua daratan besar. Perubahan itu sekaligus menjadi penanda bahwa dunia yang dikenal oleh leluhur telah mengalami perubahan besar.
Kekhakka Tuha: Kerangka Tua Gunung Purba
Bagian yang sangat menarik dari kisah ini adalah penjelasan mengenai pulau-pulau kecil yang terdapat di sekitar kawasan Selat Sunda. Menurut cerita yang berkembang, setelah Gunung Batubakha mengalami kehancuran akibat letusan dahsyat, tidak seluruh bagian gunung tersebut lenyap.
Sebagian tubuh gunung dipercaya masih tersisa dalam bentuk daratan-daratan kecil yang tersebar di tengah laut. Bentuknya kemudian dibayangkan seperti sisa-sisa kerangka sebuah gunung purba yang telah kehilangan sebagian besar tubuhnya.
Dalam bahasa Lampung, sisa tersebut disebut “Kekhakka Tuha”, yang dimaknai sebagai “Kerangka Tua.”
Istilah Kekhakka Tuha memiliki gambaran simbolis yang kuat. Ia seolah-olah menggambarkan sebuah benda tua yang tersisa setelah mengalami kehancuran besar. Gunung yang dahulu berdiri sebagai satu tubuh raksasa tidak lagi utuh; yang tersisa hanyalah bagian-bagian tertentu yang muncul sebagai pulau dan batuan di tengah laut.
Dari sudut pandang tradisi lisan, penamaan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Lampung berusaha memberikan makna terhadap bentuk alam yang mereka lihat. Pulau-pulau kecil, batuan, dan sisa daratan bukan sekadar objek geografis, tetapi dapat dipahami sebagai “tulang-belulang” atau kerangka dari suatu gunung yang pernah ada pada masa lampau.
Dari Kekhakka Tuha menjadi Krakatoa dan Krakatau
Dalam perkembangan sejarah berikutnya, kawasan tersebut kemudian dikenal oleh bangsa-bangsa Eropa. Nama yang dalam tradisi lokal dikaitkan dengan Kekhakka Tuha kemudian dicatat dalam berbagai bentuk ejaan oleh orang-orang Eropa dan menjadi Krakatoa dalam literatur kolonial dan dunia Barat.
Nama tersebut kemudian semakin dikenal secara internasional, terutama setelah peristiwa letusan dahsyat gunung api pada tahun 1883. Dalam perkembangan penggunaan bahasa Indonesia, nama tersebut kemudian lebih umum ditulis sebagai Krakatau.
Di sinilah terdapat sebuah pertemuan menarik antara ingatan budaya masyarakat lokal, catatan kolonial, dan pengetahuan modern. Nama yang berkembang dalam masyarakat setempat kemudian memasuki dunia pengetahuan dan pemetaan yang dibuat oleh bangsa Eropa, meskipun hubungan linguistik langsung antara Kekhakka Tuha dan Krakatoa merupakan hal yang perlu diteliti lebih lanjut melalui sumber-sumber linguistik dan naskah sejarah, bukan semata-mata diasumsikan sebagai fakta.
Antara Mitos dan Ingatan tentang Perubahan Alam
Jika dibaca sebagai cerita rakyat, kisah Sang Hyang Apuy dan Gunung Batubakha dapat dipahami sebagai mitologi asal-usul bentang alam. Cerita tersebut memberikan penjelasan tradisional mengenai mengapa terdapat laut yang memisahkan Sumatra dan Jawa, mengapa terdapat pulau-pulau kecil di kawasan Selat Sunda, serta bagaimana sebuah gunung besar dapat meninggalkan jejak setelah mengalami kehancuran.
Sementara itu, ilmu geologi modern menjelaskan kawasan Selat Sunda dan Krakatau melalui proses tektonik dan vulkanisme yang berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang. Aktivitas gunung api di kawasan tersebut merupakan bagian dari sistem vulkanik yang berkaitan dengan zona subduksi di sekitar Sumatra dan Jawa. Letusan Krakatau tahun 1883 sendiri merupakan salah satu letusan gunung api paling dahsyat yang tercatat dalam sejarah modern.
Karena itu, cerita tentang Sang Hyang Apuy tidak harus ditempatkan sebagai lawan dari ilmu pengetahuan modern. Sebaliknya, cerita tersebut dapat dipandang sebagai warisan pengetahuan budaya dan memori kolektif yang memperlihatkan bagaimana leluhur masyarakat Lampung memahami lingkungan dan perubahan alam di sekitarnya.
Dalam tradisi lisan, sebuah peristiwa alam yang sangat besar sering kali tidak hanya dikenang melalui tanggal dan angka, tetapi melalui tokoh, tempat, simbol, dan kisah. Sang Hyang Apuy menjadi personifikasi kekuatan api; Gunung Batubakha menjadi pusat kekuatan tersebut; letusan menjadi peristiwa pemisahan daratan; laut menjadi batas baru; sedangkan Kekhakka Tuha menjadi simbol dari sisa-sisa dunia lama yang masih dapat dilihat oleh generasi berikutnya.
Dengan demikian, kisah Sang Hyang Apuy – Gunung Batubakha – Jawa dan Sumatra – Selat Sunda – Kekhakka Tuha dapat dibaca sebagai sebuah rangkaian cerita kosmologis yang menggambarkan hubungan erat antara manusia, alam, dan ingatan leluhur.
Lebih jauh lagi, kisah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Lampung memiliki cara tersendiri dalam memberi makna terhadap lanskap di sekelilingnya. Gunung tidak hanya dipandang sebagai gunung, laut bukan sekadar laut, dan pulau-pulau kecil bukan hanya bagian dari peta. Semuanya dapat menjadi penanda sejarah dalam ingatan kolektif, yang diwariskan melalui cerita dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Karena itu, Kekhakka Tuha—“Kerangka Tua”—dapat ditempatkan sebagai sebuah metafora budaya yang kuat: sisa-sisa dari sebuah dunia purba yang dipercaya pernah berdiri, kemudian dihancurkan oleh kekuatan api dan air, tetapi jejaknya tetap bertahan dalam bentuk pulau-pulau dan dalam ingatan masyarakat yang mewariskan kisah tersebut.

0 Komentar