Niti Liyan, Tata Hidup Bernegara dan Bermasyarakat


Niti Liyan dalam tradisi Lampung berarti “aturan terhadap orang lain” yakni menyangkut urusan kehidupan sosial dan kenegaraan. Jika niti marga adalah fondasi dalam, maka niti liyan adalah jembatan keluar: hubungan dengan rakyat, pemimpin, dan sesama manusia dalam ruang sosial.
Dalam Kuntara Raja Niti, terdapat pesan bahwa:
"Tiyuh mak lampung, ngukhum ghala ghawi" Negeri yang tidak teratur, hancur karena hukum dan perilaku masyarakatnya sendiri.
(Kuntara Raja Niti, Pasal 21)
Artinya, kerusakan negeri bukan hanya karena pemimpin, tapi juga rakyat yang tak lagi berakhlak dan tak tahu aturan.
Nilai Utama: Keseimbangan antara Kuasa dan Amanah
"Raja madik ghala rakyat, rakyat madik ghala raja. Hukum madik ghala dua-dua."
(Kuntara Raja Niti, Pasal 27)
Maksudnya: penguasa hendaknya bijak terhadap rakyat, dan rakyat pun patuh kepada pemimpinnya. Hukum tidak boleh berat sebelah, harus adil terhadap semua pihak.
Hal ini sejalan dengan firman Allah:
"Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil."
(QS. An-Nisa: 58)
Dan sabda Nabi shalallahu 'alaihi wasallam:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."
(HR. Bukhari & Muslim)
Bahaya Pemimpin yang Dzalim dan Rakyat yang Bisu
Dalam tradisi Lampung, ada ungkapan:
"Negeri mak ghala tenggah, madok negari sanak megarak."
(Kuntara Raja Niti, Pasal 33)
Artinya: jika tak ada keadilan di tengah negeri, maka akan muncul pemberontakan dari dalam sendiri. Maka keadilan adalah benteng utama dari keruntuhan sebuah bangsa.
"Keadilan adalah tiang negara. Bila tiang ini roboh, semua bangunan peradaban akan hancur menjadi debu sejarah."
(Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu)
Penutup Akhir:
Pulang ke Akar, Melangkah ke Awan
Wahai generasi muda Lampung, yang matanya menatap langit dan kakinya menginjak adat, sungguh kau sedang berdiri di antara dua dunia: dunia warisan leluhur yang penuh petuah, dan dunia digital yang penuh arah tanpa arah.
Jangan buang yang lama hanya karena datangnya yang baru. Tapi jangan pula menolak cahaya ilmu hanya karena ia tak berbahasa nenek moyang.
Karena sebenarnya…
Petuah Lampung, bila digali dalam, adalah saudara kandung dari nilai-nilai Islam yang luhur.
Coba resapi ini:
"Piil pesenggiri" bukan sekadar harga diri, tapi cerminan dari izzah (kemuliaan ) dalam Islam.
"Nengah nyampur" bukan sekadar sopan santun, tapi bagian dari ukhuwah.
"Sakai sambayan" bukan hanya gotong royong, tapi wujud dari ta’awun ‘alal birri wat-taqwa."
Jika kita buang semua itu demi budaya viral, maka kita bukan hanya kehilangan adat, tapi juga membunuh akar dari iman dan peradaban.
"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri."
(QS. Al-Hasyr: 19)
Wahai saudaraku, kita tak kekurangan ajaran, yang kita kekurangan adalah keberanian untuk kembali. Kembali berpikir jernih. Kembali menyusun hidup dengan nalar yang lurus dan nurani yang bening.
“Manusia itu ibarat tanah, yang bila lama tak digarap akan ditumbuhi rumput liar. Maka galilah kembali tanahmu dengan cangkul iman, dan siramilah dengan logika yang jujur.”
(Otousan Ocha)
Akhir kata, mari kita jadikan Kuntara Raja Niti bukan sekadar dokumen tua berdebu, tapi kitab hidup yang bernyawa kembali di tangan generasi muda. Kita tidak akan pernah benar-benar merdeka, sampai cara berpikir kita ikut merdeka dari belenggu kebodohan, fanatisme, dan kebingungan identitas.
Karena kemerdekaan sejati bukan ketika kita bebas berkata,
Tapi ketika kita tahu apa yang harus dikatakan, dan mengapa kita harus mengatakannya.
"Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik."
(QS. Yusuf: 108)
Suara Otousan Ocha:
Aku tak ingin dipuja. Tak perlu dipanggil tokoh. Tak layak disebut pewaris adat. Aku hanya seorang pengingat, yang menggigil melihat bangsanya melupakan arah, yang menangis bukan karena takut tertinggal, tapi karena takut tak bisa pulang.
Mari kita pulang.
Pulang ke Islam yang fitrah.
Pulang ke Lampung yang penuh petuah.
Pulang ke logika yang jujur.
Pulang ke cinta yang benar.
Karena hanya yang tahu jalan pulang…
yang tak akan mudah disesatkan zaman."

Posting Komentar

0 Komentar